Assalamualaikum Wr. Wb.
Halo guys, kembali lagi di BlogAfthoni! pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai Protocol Spanning Tree (STP). Saat kita sedang mendesain sebuah jaringan komputer, terkadang kita membutuhkan yang namanya redudansi. Redudansi yaitu sebuah desain jaringan dimana kita membuat jalur cadangan sehingga ada beberapa jalur untuk paket kita menuju ke sebuah tujuan.
Kegunaan dari redudansi sendiri yaitu semisal ada link atau kabel yang rusak, paket kita bisa melewati jalur cadangan tadi, sehingga jaringan komputer kita dapat selalu on dan tidak pernah down.
Apa sih Spanning Tree itu?
Spanning Tree Protocol atau yang biasa disingkat STP adalah protokol yang berfungsi untuk mencegah terjadinya looping pada proses pengiriman data. STP biasanya digunakan jika switch memiliki dua jalur atau lebih untuk menuju ke satu tujuan yang sama.
Kegunaan dari redudansi sendiri yaitu semisal ada link atau kabel yang rusak, paket kita bisa melewati jalur cadangan tadi, sehingga jaringan komputer kita dapat selalu on dan tidak pernah down.
Apa sih Spanning Tree itu?
Spanning Tree Protocol atau yang biasa disingkat STP adalah protokol yang berfungsi untuk mencegah terjadinya looping pada proses pengiriman data. STP biasanya digunakan jika switch memiliki dua jalur atau lebih untuk menuju ke satu tujuan yang sama.
STP akan melakukan blocking terhadap satu atau beberapa port sehingga nantinya hanya akan ada satu jalur yang digunakan untuk mengirim data, sementara yang lainnya akan menjadi jalur cadangan.
Ketika jalur yang digunakan untuk mengirim data tersebut mengalami down, maka STP akan membuka port yang diblok tadi. Pengiriman data akan dialihkan ke jalur cadangan sampai jalur utama kembali normal.
Spanning Tree Protocol bekerja di layer 2 OSI. STP biasa digunakan pada switch, router yang menjalankan mode bridge, serta mulitlayer swicth yang berfungsi sebagai switch.
Root Bridge dan Non-Root Bridge
Pada perangkat yang menjalankan spaning tree protocol, akan terdapat dua peran yang berbeda, yakni Root Bridge dan Non-Root Bridge. Root Bridge merupakan switch yang semua portnya aktif/menyala. Sedangkan Non-Root Bridge adalah switch-switch selain Root Bridge.
Apabila hanya ada dua buah switch, maka Non-Root Bridge adalah switch yang salah satu atau beberapa portnya mati (mengalami blocking) yang bertujuan untuk mencegah terjadinya looping.
Dalam sebuah jaringan spanning tree, hanya akan ada satu switch yang menjadi Root Bridge dan lainnya akan menjadi Non-Root Bridge. Mari kita lihat gambar di bawah ini :
Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa Switch1 merupakan Root Bridge karena seluruh portnya dalam keadaan aktif (berwarna hijau), sementara Switch0 merupakan Non-Root Bridge karena pada switch0 terdapat salah satu port yang dalam keadaan blocking (berwarna oranye).
Port yang mengalami blocking inilah yang akan menjadi jalur cadangan. Jadi, apabila salah satu port yang di atas mengalami down, maka link yang di bawahnya akan digunakan sebagai jalur pengganti untuk mengirim data.
Macam-macam Port pada STP
Macam-macam Port pada STP
Dalam spanning tree protocol juga terdapat beberapa jenis port antara lain :
- Designated Port, yaitu port yang digunakan untuk mengirim data (memiliki MAC address terkecil).
- Root Port, yaitu port pada switch yang terhubung ke Root Bridge.
- Blocking Port, yaitu port yang diblok sehingga menjadi tidak aktif dan tidak digunakan untuk mengirim data. Biasanya blocking port dipilih dari nilai MAC address terbesar, nilai port terbesar, atau port dengan bandwidth terkecil.
Lihatlah kembali informasi spanning tree pada Switch0 dan Switch1 pada bagian Inteface. Pada Switch0 port Fa0/1 berstatus FWD (forward) yang artinya port tersebut merupakan designated port dan digunakan untuk mengirimkan data.
Sedangkan pada port Fa1/1 berstatus BLK yang artinya port tersebut dalam keadaan blocking dan tidak digunakan untuk mengirimkan data. Port tersebut menjadi alternate port (cadangan) dan akan aktif ketika port di atas nya mengalami down.
Sementara pada Switch1, baik port Fa0/1 maupun Fa1/1 berstatus FWD. Hal ini dikarenakan Switch1 merupakan Root Bridge sehingga semua port nya dalam keadaan aktif. Port Fa1/1 akan tetap aktif meskipun tidak digunakan untuk mengirim data.
Note: hanya ada satu root bridge dalam jaringan spanning tree. Switch yang seluruh port nya berstatus forward belum tentu Root Bridge, bisa saja switch tersebut menjadi Non-Root Bridge. Sedangkan switch yang memiliki blocking port sudah pasti Non-Root bridge.
Mungkin itu saja yang bisa saya bagikan kepada kalian semuanya, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Untuk menutup artikel kali ini, Ikan hiu makan bombay, Thank you and babayyy.



